DARI SINI UKHUWAH DIMULAI #1
Dan rahasia ukhuwah sepanjang sejarah pun akhirnya diketahui. Ukhuwah antara muhajirin dan anshor yang begitu indah menghias sejarah dan peradaban abadi. Kisah mereka tak pernah hilang dalam teladan hidup mukmin setiap hari. Apa yang menjadikan mereka berhasil membangun ukhuwah yang tinggi?. Ayat diatas, menyebut, mereka menyiapkan rumah dan iman yang pertama sebagai pondasi.
Maknanya mental yang dibangun sejak awal adalah mental berbagi.Belum cukup dengan rumah pribadi yang dimiliki. Masih perlu rumah lain yang mesti dibangun untuk dimiliki. Bukan untuk ditempati sendiri. Tapi rumah yang disiapkan untuk berbagi. Apakah akan dikasihkan dalam sedekah kepada saudaranya mukmin ataupun sebagai sedekah pakai. Disebut rumah dalam ayat ini dan tidak lainnya, semoga untuk yang lainnya sudah terwakili. Karena menyiapkan rumah berarti menyiapkan lainnya sebagai konsekwensi.
Difahami juga sebelum rumah oleh kita mampu disiapkan, ada banyak hal yang bisa disiapkan diri sejak dari dini. Bisa dengan menyiapkan kamar dan lengkap dengan kamar mandi. Untuk menyambut setiap tamu yang bertamu sekaligus bermalam, sekalipun hanya sebentar barang dua jam terus melanjutkan pergi. Juga untuk tamu kerabat ataupun saudara dan sahabat seiman yang membutuhkan di kemudian hari.
Bisa juga menyiapkan mobil atau motor yang siap dipinjam berbagi. Kenapa ndak sekalian pakai aja mobil pribadi atau motor pribadi?. Mobil pribadi tidak diniatkan untuk berbagi. Akan bnyak menuai tidak puas dan masalah hati. Berangkat bersih pulang kotor dongkol hati. Berangkat bensin penuh, pulang habis jengkel hati. Berangkat sehat pulang ada yang rusak bikin emosi. Lain halnya dengan mobil atau motor yang memang untuk diniatkan sedekah pakai. Mau keadaan pulang seperti apapun memang sudah diniati. Hati siap lapang dan tidak sakit hati. Sehingga siapapun yang datang ingin berhutang tidak perlu lari. Sudah disiapkan bagian yang disiapkan untuk dihutang sebagai alokasi.
Adapun jumlah yang disiapkan tidak sebesar yang dibutuhkan, setidaknya kita tidak menolaknya dan semoga kekurangannya Alloh bantu lewat jalan lain sehingga mencukupi. Kunjungan tamu yang semestinya bahagia menerima tidak harus berubah petaka karena si tamu biasa berhutang dari jauh sudah dikenali. Begitu juga ada bagian yang untuk sedekah dalam alokasi. Siapapun yang datang bisa diberi. Dari yang bawa proposal, pengamen, peminta-minta, sumbangan di hajatan dan acara lainnya serta bisa juga untuk anggaran memuliakan tamu dengan suguhan yang menarik hati. Kedatangan mereka bukan lagi masalah yang berarti. Tapi justru anugerah yang membuat kita bisa berbagi.
Aa yang menjadikan mereka berhasil membangun ukhuwah yang tinggi?. Ayat diatas, menyebut, mereka menyiapkan rumah dan iman yang pertama sebagai pondasi.
Maknanya mental yang dibangun sejak awal adalah mental berbagi.Belum cukup dengan rumah pribadi yang dimiliki. Masih perlu rumah lain yang mesti dibangun untuk dimiliki. Bukan untuk ditempati sendiri. Tapi rumah yang disiapkan untuk berbagi. Apakah akan dikasihkan dalam sedekah kepada saudaranya mukmin ataupun sebagai sedekah pakai. Disebut rumah dalam ayat ini dan tidak lainnya, semoga untuk yang lainnya sudah terwakili. Karena menyiapkan rumah berarti menyiapkan lainnya sebagai konsekwensi.
Difahami juga sebelum rumah oleh kita mampu disiapkan, ada banyak hal yang bisa disiapkan diri sejak dari dini. Bisa dengan menyiapkan kamar dan lengkap dengan kamar mandi. Untuk menyambut setiap tamu yang bertamu sekaligus bermalam, sekalipun hanya sebentar barang dua jam terus melanjutkan pergi. Juga untuk tamu kerabat ataupun saudara dan sahabat seiman yang membutuhkan di kemudian hari.
Bisa juga menyiapkan mobil atau motor yang siap dipinjam berbagi. Kenapa ndak sekalian pakai aja mobil pribadi atau motor pribadi?. Mobil pribadi tidak diniatkan untuk berbagi. Akan bnyak menuai tidak puas dan masalah hati. Berangkat bersih pulang kotor dongkol hati. Berangkat bensin penuh, pulang habis jengkel hati. Berangkat sehat pulang ada yang rusak bikin emosi. Lain halnya dengan mobil atau motor yang memang untuk diniatkan sedekah pakai. Mau keadaan pulang seperti apapun memang sudah diniati. Hati siap lapang dan tidak sakit hati. Sehingga siapapun yang datang ingin berhutang tidak perlu lari. Sudah disiapkan bagian yang disiapkan untuk dihutang sebagai alokasi.
Adapun jumlah yang disiapkan tidak sebesar yang dibutuhkan, setidaknya kita tidak menolaknya dan semoga kekurangannya Alloh bantu lewat jalan lain sehingga mencukupi. Kunjungan tamu yang semestinya bahagia menerima tidak harus berubah petaka karena si tamu biasa berhutang dari jauh sudah dikenali. Begitu juga ada bagian yang untuk sedekah dalam alokasi. Siapapun yang datang bisa diberi. Dari yang bawa proposal, pengamen, peminta-minta, sumbangan di hajatan dan acara lainnya serta bisa juga untuk anggaran memuliakan tamu dengan suguhan yang menarik hati. Kedatangan mereka bukan lagi masalah yang berarti. Tapi justru anugerah yang membuat kita bisa berbagi.